This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 29 Desember 2014

INOVASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Dewasa ini arus informasi berkembang begitu pesat sehingga menuntut semua bidang kehidupan untuk menyesuaikan visi, misi, tujuan, dan strateginya agar sesuai dengan kebutuhan zaman. Sistem pendidikan nasional senantiasa harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi baik  di tingkat local, nasional, atau pun global.
Salah satu komponen dari sistem pendidikan adalah kurikulum, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh penyelenggara, khususnya oleh guru dan kepala sekolah karena kurikulum sebagai acuan harus mampu berkembang mengimbangi perubahan zaman.
Beberapa tahun ke belakang, telah terjadi beberapa kali pergantian kurikulum pendidikan, semata mata bertujuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan masa. Pergantian tersebut sebagai wujud inovasi dalam kurikulum, agar substansi substansi yang terkait mengalami peningkatan mutu yang lebih baik dari sebelumnya.
Kurikulum dan pembelajaran dimaksudkan sebagai suatu idea, gagasan atau tindakan tertentu dalam bidang kurikulum dan pembelajaran yang dianggap baru untuk  memecahkan masalah pendidikan.
Atas latar belakang tersebut penulis mengambil judul makalah yaitu, “INOVASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.    Apa definisi dari inovasi kurikulum dan pembelajaran?
2.    Apa sajakah hasil inovasi kurikulum ?
3.    Apa sajakah hasil inovasi pembelajaran ?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.    Mengetahui definisi dari inovasi kurikulum dan pembelajaran.
2.    Mengetahui hasil inovasi kurikulum.
3.    Mengetahui hasil inovasi pembelajaran.


























BAB II
PEMBAHASAN

A.  Definisi Inovasi Kurikulum dan Pembelajaran.
Pengertian inovasi menurut kamus ilmiah populer yaitu pembaharuan (bidang pengembangan kemasyarakatan, sains, atau iptek).[1] Secara umum inovasi berarti pembaharuan atau perubahan yang ditandai dengan adanya hal-hal baru. Upaya untuk mencari hal yang baru itu disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya sebagai upaya memecahkan masalah yang tengah dihadapi. Penemuan baru dapat dikatakan inovasi apabila penemuan baru tersebut memberikan dampak positif, dan upaya pemecahan solusi atas sebuah permasalahan yang tengah dihadapi.
Inovasi pada dasarnya merupakan hasil pemikiran yang bercirikan hal baru, baik berupa praktik-praktik tertentu, atau berupa produk dari suatu hasil olah pikir dan olah teknologi yang diterapkan melalui tahapan tertentu yang diyakini dan dimaksudnkan untuk memcahkan persoalan yang timbul dan memperbaiki suatu keadaan menjadi lebih baik. Dalam bidang pendidikan misalnya, untuk memecahkan persoalan-persoalan yangdihadapi, telah banyak dilontarkan model-model inovasi dalam berbagai bidang, antara lain : usaha pemerataan pendidikan, peningkatan mutu, peningkatan efisiensi dan efektivitas pendidikan, dan relevansi pendidikan. Kesemuanya dimaksudkan agar difusi inovasi yang dilakukan bisa diadopsi dan dimanfaatkan untuk perbaikan dan pemecahan persoalan pendidikan di Tanah Air.[2]
Secara Etimologis kurikulum berasal dari bahasa latin (Yunani) yaitu asal dari kata currir yang artinya pelari, dancurere artinya tempat berpacu. Pengertian tersebut jelas merupakan pengertian dalam bidang olahraga, karena sejak zaman dahulu bangsa Yunani menyenangi olahraga.[3] Kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang perlari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali atau penghargaan. Kemudian pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah. [4]
Menurut Undang-undang No.11 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang dipergunakan sebagai pedoman  penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. [5] Sedangkan yang dimaksud pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa.
Khusus dalam dunia pendidikan, seperti dalam kurikulum dan pembelajaran yang setiap saat selalu ada upaya inovasi, maka untuk aspek batasan waktu ini, kita dapat menjadikannya sebagai indikator bahwa hasil inovasi tersebut justru sudah tidak dikatakan inovasi lagi. Sebagai ilustrasi, misalnya temuan hasil inovasi yang sudah dipakai orang banyak seperti contohnya dulu ada kurikulum Sistem Ganda (PSG). Hasil inovas ini jika dibicarakan dan dianalisis saat ini, maka sebetulnya sudah tidak bisa lagi bahwa itu adalah kurikulum inovasi.
    
              Menurut Mattew B. Miles (1973) ciri-ciri inovasi dalam pendidikan terdiri dari empat hal utama, yaitu :[6]
1.    Memiliki kekhasan / khusus
Artinya suatu inovasi akan memiliki ciri yang khas dalam arti ide, program, tatanan, sistem, termasuk kemungkinan hasil yang diharapkan. Hal utama bercirikan spesifik adalah suatu inovasi memunculkan kondisi khusus, dan bukan asal tersebar. Misalnya, program guru kelas rangkap (multi grade teachers), yang dianggap memiliki ciri khusus disbanding dengan program sejenis yang ada.

2.    Memiliki ciri atau unsur kebaruan
Dalam arti, suatu inovasi harus memiliki karakteristik sebagai buah karya dan buah pikir yang memiliki kadar orisinalitas dan kebaruan.

3.    Program inovasi dilaksanakan melalui program yang terencana
Dalam arti, bahwa suatu inovasi akan dilakukan melalui suatu proses yang tidak tergesa-gesa, namun kegiatan inovasi dipersiapkan secara matang dengan program yang jelas dan direncanakan terlebih dahulu. Proses inovasi bukan suatu proses yang tiba-tiba dan tak sengaja, tetapi merupakan suatu proses penemuan dengan perencanaan yang matang dan diperhitungkan tahapan-tahapan yang harus dilaksanakannya.

4.    Inovasi yang digulirkan memiliki tujuan.
Inovasi yang digulirkan memiliki tujuan, yaitu bahwa program inovasi yang dilakukan harus memiliki apa yang ingin dicapai, termasuk arah dan strategi yang bagaimana untuk mencapai tujuan tersebut dicapai dari sistem inovasi yang dilakukan.

B.       Hasil Inovasi Kurikulum
Perubahan-perubahan dan pergantian –pergantian kurikulum sejak tahun 60-an hingga kini telah banyak dirasakan, perubahan yang terjadi sebagai hasil pola pikir dan produktivitas bagaimana inovasi dalam penyesuaian kurikulum yang selalu dianut oleh masyarakat dapat dilakukan. Alasan kenapa itu bisa terjadi sslah satunya yaitu hasil inovasi pendidikan. Berikut beberapa hasil inovasi berikut ini yaitu :
a.         Kurikulum Muatan Lokal
       Kurikulum yang menyesuaikan disesuaikan dengan daerah sekolahnya dimana. Sebagai sumber belajarnya adalah Dengan menggunakan lingkungan maka besar kemungkinan murid dapat mengamati, melakukan percobaan atau kegiatan belajar sendiri. Belajar mencari, mengolah, menemukan informasi sendiri dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang ada di lingkungannya merupakan pola dasar dari belajar. Secara khusus, muatan lokal adalah program pendidikan dalam bentuk mata pelajaran yang isi dan media penyampaiaannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah yang wajib dipelajari oleh peserta didik di daerah itu.[7]

b.         Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
       Pendidikan Sistem Ganda atau PSG adalah perpaduan dari pelatihan kejuruan paruh waktu yang dikombinasikan dengan belajar paruh waktu. pemanfaatan dua lingkungan belajar terdapat di sekolah dan di luar sekolah dalam kegiatan proses pendidikan, pendidikan keahlian dalam profesional, yang menyatukan secara sistematik dan sinkron terhadap program pendidikan di sekolah dan program pengusahaan keahlian yang di peroleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, semua itu terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu.[8]

c.    Broad Based Curiculum
       Pendididikan Berbasis Luas (BBE) yang Berorientasi Pada Kecakapan Hidup (Life Skill) Broad-based Education (BBE) adalah pendidikan berbasis luas, yaitu pendidikan yang dapat membekali siswa dengan kecakapan generic atau kecakapan hidup yang bersifat umum, yang memungkinkan mereka dapat memiliki kecakapan akademik dan atau kejuruan, sehingga mereka dapat memasuki dunia kerja dalam berbagai bidang keahlian, sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya. Kecakapan Hidup Sebagai Tujuan Pendidikan Tujuan semua mata pelajaran pada kurikulum 1994/1999 dapat dirumuskan dalam bentuk kemampuan dasar atau kompetensi dasar. Dengan Kurikulum 1994/1999 yang bersifat Subject Matter Curriculum, guru dapat menyelenggarakan pembelajaran berbasis kompetensi.[9]

d.   KBK
       KBK singkatan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi. KBK menekankan pada keseimbangan soft skill  (kemampuan dasar) dan hard skill (kemampuan yang  menonjol atau prestasi) dengan memfokuskan kompetensi atau kemampuan seseorang. Melalui KBK, saya disiapkan atau dididik sampai memenuhi kompetensi kelulusan yang diharapkan oleh lapangan pekerjaan.

e.    KTSP
       KTSP Standar Isi ditentukan terlebih dahulu melaui Permendiknas No 22 Tahun 2006. Lebih menekankan pada aspek pengetahuan. di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-III. Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibanding Kurikulum 2013. Standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi. TIK sebagai mata pelajaran. Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib. Penjurusan mulai kelas XI. Tiap mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan berbeda. [10]

f.     Kurikulum 2013
     SKL (Standar Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu, melalui Permendikbud No 54 Tahun 2013. Setelah itu baru ditentukan Standar Isi, yang bebentuk Kerangka Dasar Kurikulum, yang dituangkan dalam Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013. Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-VI. Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit dibanding KTSP. Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan ilmiah (saintific approach), yaitu standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta. TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran. Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil. Pramuka menjadi ekstrakuler wajib.[11]

C.       Hasil Inovasi Pembelajaran
Sampai saat ini beberapa temuan baru yang merupakan hasil dari inovasi pembelajaran sudah sangat banyak, diantaranya adalah yang disebut dengan Brain Based Learning, LCBT, ICARE.[12]
a.         Model pembelajaran Brain Based Learning
Model pembelajaran inovasi ini berkembang sebagai hasil dari penelitian yang dilakukan oleh pakar “Belajar Otak” dari Eric Jensen (2004). Model ini memberikan dasar masukan bagi para pengembang pembelajaran yang selama ini masih menggunakan dasar ilmu psikologi. Aspek yang ditelaah dari inovasi ini, yaitu aspek keunggulan otak manusia yang diasumsikan memiliki dukungan kuat terhadap gejala-gejala psikolog yang selama ini terlihat dari bentuk dan performance siswa ketika mengikuti pembelajaran. Inovasi ini telah melahirkan beberapa konsep baru dan membuktikan konsep-konsep dan teori-teori yang selama ini banyak diperbincangkan dikalangan akademik. Misal konsep Accelerated Learning, Peta Concept¸Visual Intelegence, Gestural Intelegence, Kinestik Intelegence, Tactile Intelegence.

b.         Model Pembelajaran LCBT
       Model Pembelajaran LCBT merupaka salah satu temuan model pembelajaran yang berbasis atas berfikir Lateral. Dani darmawan, dkk. (2003:89) menjelaskan bahwa LCBT sangat penting membantu kecepatan dan melatih berpikir kritis siswa dan dapat memberikan pengalaman berpikir kritis pada guru dalam pengembangan stimulus-stimulus pembelajaran yang  mampu merangsang siswa berpikir cepat, tepat, dan bermakna selama pembelajaran. Model pembelajaran ini menerapkan prinsip model latihan dan tutorial dengan melalui penerapan berpikir lateral atau loncatan berpikir yang didukung oleh kemampuan visual dalam memahami informasi pembelajaran dari layar komputer.

c.         Model pembelajaran ICARE
Model pembelajaran ICARE dalam mata pelajaran TIK, diadopsi dari sistem pembelajaran “ICARE” yang pernah dikembangkan oleh Department of Educational Technology, San Diago State University (SDSU) Amerika Serikat (Pastor, N, 2000). Sesuai dengan namanya “ICARE”, pembelajaran ini merupakan singkatan dari lima kata, yaitu : (1) Introduction (pengenalan), (2) Connect  (menghubungkan), (3) Apply (Menerapkan dan Mempraktikan), (4) Reflect (merefleksikan), dan (5) Extend (memperluas dan evaluasi).







BAB III
PENUTUPAN

A.    Kesimpulan
Suatu inovasi yang telah ada harus ada suatu difusi inovasi atau penyebaran inovasi. Dalam bidang pendidikan misalnya, untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi, telah banyak dilontarkan model-model inovasi dalam berbagai bidang, antar lain: usaha pemerataan pendidikan, peningkatan mutu,peningkatan efisiensi dan efektivitas pendidikan, dan relevansi pendidikan. Kesemuanya dimaksudkan agar difusi inovasi yang dilakukan bisa diadopsi dan dimanfaatkan untuk perbaikan dan pemecahan persoalan pendidikan di Tanah Air.

B.     Saran
Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetap juga di segala bidang termasuk bidang pendidikan. Pembaruan pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen system pendidikan.
Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.
Kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada outputnya sehingga akan muncul pengakuan yang rill dari siswa, orang tua dan masyarakat. Namun sekolah/ lembaga pendidikan tidak akan meraih suatu pengakuan rill apabila warga sekolah tidak melakukan suatu inovasi di dalamnya dengan latar belakang kekuatan, kelemahan tantangan dan hambatan yang ada.




DAFTAR PUSTAKA


Maulana Achmad. 2003. Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta : Absolut
Tim Pengembangan MKDP. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : RajaGrafindo Persada
Http://cyber-dakhlan90.blogspot.com/2012/09/adopsi-dan-pelaksanaan-inovasi.html. (28 November 2014, 09.11)
Https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/01/20/pengelolaan-kurikulum-muatan-lokal-2/ online (28 Nop. 14, 11.29)
Http://seputarpendidikan003.blogspot.com/2013/06/pendidikan-sistem-ganda.html (28 noveber 2014, 11.45)
Http://santyaka-singaraja.blogspot.com/2008/05/pendidikan-berbasis-luas-broad-based.html (28 november 2014, 11.40)
Https://www.academia.edu/6338845/Perbedaan_Kurikulum_2013_Dengan_KTSP online (28 november 2014, 10.35)



[1] Maulana Achmad, 2003, Kamus Ilmiah Populer, Yogyakarta : Absolut, hlm. 170
[2]Tim Pengembangan MKDP, 2013, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : RajaGrafindo Persada, hlm. 220
[4] Ibid : 2
[6] http://cyber-dakhlan90.blogspot.com/2012/09/adopsi-dan-pelaksanaan-inovasi.html. (28 November 2014, 09.11)
[7] https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/01/20/pengelolaan-kurikulum-muatan-lokal-2/ online (28 Nop. 14, 11.29)
[8] http://seputarpendidikan003.blogspot.com/2013/06/pendidikan-sistem-ganda.html (28 noveber 2014, 11.45)
[9] http://santyaka-singaraja.blogspot.com/2008/05/pendidikan-berbasis-luas-broad-based.html (28 november 2014, 11.40)
[10] https://www.academia.edu/6338845/Perbedaan_Kurikulum_2013_Dengan_KTSP online (28 november 2014, 10.35)
[11] https://www.academia.edu/6338845/Perbedaan_Kurikulum_2013_Dengan_KTSP, online ( 28 Nop. 14, 10.34)
[12] Tim Pengembangan MKDP, 2013, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : RajaGrafindo Persada, hlm. 248

MENINJAU KEBIJAKAN PEMERINTAH INDONESIA MELALUI BANTUAN LANGSUNG TUNAI (BLT) TERHADAP MASYARAKAT MISKIN DALAM MENGENTASKAN KEMISKINAN (Study Kasus di Dusun Tipar, Ds. Ligung Lor, Kec.Ligung, Kab. majalengka)



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Dalam suatu negara pasti ada saja masyarakat miskin karena hal itu merupakan stratifikasi sosial. Salah satu bentuk kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan ialah dengan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada rakyat miskin di Indonesia. Dalam fenomena ini, pemerintah mengucurkan dana tunai atau dana langsung yang diterima oleh masyarakat melalui aparatur pemerintahan yang sebelumnya telah melakukan survey terkait penduduk mana saja yang berhak menerima dana tersebut. Kebijakan ini dilakukan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat kecil dan menengah untuk meningkatkan taraf hidup mereka, mengingat masih banyaknya penduduk yang dikategorikan miskin di Indonesia.
Penyebab kemiskinan di Indonesia sangat beragam, dimulai dari pendidikan yang rendah, etos kerja yang kurang, hingga budaya konsumerisme yang tinggi serta korupsi yang tumbuh subur. Itulah mengapa pemerintah memberikan dana BLT sebagai “perangsang” perekonomian masyarakat.
Bantuan Langsung Tunai atau yang sekarang berubah nama menjadi Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) untuk warga miskin merupakan dana kompensasi dari pemerintah karena adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Bantuan tersebut diberikan kepada warga miskin dengan target mereka tidak kaget secara berlebihan begitu menghadapi harga BBM naik yang diikuti dengan mahalnya harga kebutuhan bahan pokok. Bantuan ini menjadi pilihan bagi pemerintah karena sifatnya langsung, namun apakah dalam dalam realisasinya benar-benar untuk rakyat, dan apakah sudah tepat sasaran melihat BLT pada periode sebelumnya.
Atas latar belakang demikian maka penulis tergugah hatinya untuk mencoba membuat makalah dengan judul MENINJAU KEBIJAKAN PEMERINTAH INDONESIA MELALUI BANTUAN LANGSUNG TUNAI (BLT) TERHADAP MASYARAKAT MISKIN DALAM MENGENTASKAN KEMISKINAN.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Apa itu BLT (Biaya Langsung Tunai) ?
2.      Apa tanggapan masyarakat Dusun Tipar, Desa Ligung Lor, Kec. Ligung Kab. Majalengka tentang BLT (Biaya Langsung Tunai) ?
3.      Bagaimana solusi dan upaya pemerintah dalam meminimalisir dan mengentaskan kemiskinan di Indonesia ?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui apa itu BLT (Biaya Langsung Tunai).
2.      Mengetahui secara realita tanggapan masyarakat Dusun Tipar, Desa Ligung Lor, Kec. Ligung Kab. Majalengka tentang BLT (Biaya Langsung Tunai).
3.      Menganalisis berfikir kritis dan mengetahui akan solusi dan upaya pemerintah dalam meminimalisir dan mengentaskan kemiskinan di Indonesia ?








BAB II
PEMBAHASAN


A.    BLT (Biaya Langsung Tunai)
Bantuan Langsung Tunai (BLT) merupakan salah satu program Pemerintahan SBY untuk meringankan beban hidup masyarakat miskin dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Kebijakan ini merupakan program subsidi pemerintah setelah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak tahun lalu. Kenaikan BMM diambil sebagai bentuk penyelamatan anggaran Negara akibat naiknya harga minyak dunia saat itu.[1] Dengan tujuan untuk mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin, pemberian modal usaha kecil-kecilan bagi masyarakat miskin,yang tentu saja pemerintah berharap dengan adanya BLT akan merobah taraf perekonomian di Indonesia secara keseluruhan.
Masalah yang melatarbelakangi program BLT tidak lain dan tidak bukan hanyalah kemiskinan di Indonesia, yang makin hari makin bertambah. Diperkirakan lebih 30% penduduk di Indonesia tergolong miskin. Dan angka ini besar kemungkinan akan terus bertambah setiap tahunnya,dikarenakan populasi yang besar penduduk Indonesia yang berada pada penduduk miskin. Artinya , seorang penduduk miskin menikah dengan wanita miskin akan menambah deretan keluarga miskindan setelah melahirkan keluarga tersebut juga akan menyumbangkan penduduk miskin baru bagi daerahnya. Hal ini tidak bisa di pungkiri, karena jarang kita jumpai seorang miskin menikah denagn seorang wanita kaya, konglomerat ataupun jutawan, yang bisa mengangkat taraf perekonomiannya.
Kemiskinan di Indonesia sudah sangat komplit keberadaannya. Masyarakat tidak hanya miskin dalam artian tidak punya harta benda saja , akan tetapi yang lebih serius lagi masyarakat Indonesia juga miskin pendidikan, miskin ilmu pengetahuan, miskin kesehatan, miskin asupan gizi, serta miskin tempat tinggal, bahkan miskin rohani religius. Rendahnya tingkat pendidikan rumah tangga membuat mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan kesehatan dan pendidikan anak-anak mereka.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah sebagai pengambil kebijakn telah berusaha,untuk menekan kemiskinan, menekan beban pengeluaran masyarakat miskin, dengan kebijakan Bantuan Langsung Tunai ( BLT )
Pada tahun 2004 Pemerintah Indonesia memastikan harga minyak dunia naik, mereka pun memutuskan memotong subsidi minyak. Hal ini dilakukan dengan alasan BBM bersubsidi lebih banyak digunakan oleh orang-orang dari kalangan industri dan berstatus mampu. Lalu, setelah didata lebih lanjut, diketahui dari tahun 1998 sampai dengan 2005 penggunaan bahan bakar bersubsidi telah digunakan sebanyak 75 persen. Pemotongan subsidi terus terjadi hingga tahun 2008 dengan kenaikan sebesar 50 persen dari harga awal, karena harga minyak dunia kembali naik saat itu. Akibatnya, harga bahan-bahan pokok pun ikut naik.
Demi menanggulangi efek kenaikan harga bagi kelompok masyarakat miskin, pemerintah memperkenalkan program BLT kepada masyarakat untuk pertama kalinya di tahun 2005. Program ini dicetuskan oleh Jusuf Kalla tepat setelah dirinya dan Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan pemilihan umum presiden dan wakil presiden Indonesia di tahun 2004. Akhirnya, berdasarkan instruksi presiden nomor 12, digalakanlah program Bantuan Langsung Tunai tidak bersyarat pada Oktober tahun 2005 hingga Desember 2006 dengan target 19,2 juta keluarga miskin. Lalu, karena harga minyak dunia kembali naik, BLT pun kembali diselenggarakan pada tahun 2008 berdasarkan instruksi presiden Indonesia nomor 3 tahun 2008. Dan terakhir, di tahun 2013, pemerintah kembali menyelenggarakan BLT tetapi dengan nama baru: Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Secara mekanisme, BLSM sama seperti BLT, dan jumlah anggaran yang dikeluarkan untuk program ini adalah 3,8 triliun rupiah untuk 18,5 juta keluarga miskin, dengan uang tunai 100 ribu rupiah per bulannya.
Selain program BLT tak bersyarat, pemerintah juga menyelenggarakan program BLT bersyarat dengan nama Program Keluarga Harapan (PKH). PKH adalah program bantuan untuk keluarga miskin dengan syarat mereka harus menyekolahkan anaknya dan melakukan cek kesehatan rutin. Target utama dari program ini adalah keluarga miskin dengan anak berusia antara         0- 15 tahun, atau ibu yang sedang hamil pada saat mendaftar. Dana tunai akan diberikan kepada keluarga pendaftar selama enam tahun. Program ini menargetkan sekitar 2,4 juta keluarga miskin, dan telah diberikan ke 20 provinsi, 86 daerah, dan 739 sub daerah dengan jumlah telah menyentuh 816.000 keluarga miskin.
Tahapan pelaksanaan program bantuan langsung tunai di Indonesia umumnya dimulai dari sosialisasi, verifikasi data nama nominasi Rumah Tangga Sasaran (RTS) yang akan diberikan bantuan, pembagian kartu BLT, pencairan dana, dan terakhir pembuatan laporan dan evaluasi. Mekanisme pembagian BLT yang terstruktur baru diberlakukan pada tahun 2008, dan mekanisme ini tetap digunakan pada tahun 2013.Tetapi di tahun 2013 penyelenggaran BLT tidak lagi menggunakan kartu, melainkan langsung dengan kartu penerima beras miskin (raskin). Rincian kerja dan mekanisme BLT adalah:[2]
 







Tidak semua lapisan masyarakat kelas bawah dapat serta merta menjadi penerima BLT, adapun kriteria masyarakat miskin yang dapat ditetapkan sebagai penerima BLT adalah (Sumatera Ekspress, 2008) : 
1.      Lantai bangunan rumah, kurang dari 8 m2/orang
2.      Jenis lantai terbuat dari tanah/kayu/bamboo
3.      Jenis dinding rumah terbuat dari bamboo, rumbia, kayu berkualitas rendah
4.      Tidak memiliki jamban sendiri
5.      Sumber air minum berasal dari sumur, sungai atau air hujan
6.      Bahan bakar untuk memasak dari kayu bakar, arang dan minyak tanah
7.      Hanya mengkonsumsi daging, susu dan ayam satu minggu sekali
8.      Hanya membeli satu setel pakain dalam setahun
9.      Hanya sanggup makan sebanyak satu atau dua kali setiap hari
10.  Tidak sanggup membayar pengobatan di puskesmas atau di poliklinik 
11.  Sumber penghasilan kepala keluarga adalah petani dengan luas lahan 0,5 ha, buru tani, nelayan, buruh bangunan atau pekerjaan lainnya dengan upah dibawah Rp. 600.000/bulan
12.  Pendidikan tertinggi kepala keluarga SD
13.  Tidak memiliki tabungan atau barang yang mudah dijual minimal Rp. 500.000, seperti : motor, emas, ternak atau barang lainnya
14.  Sumber penerangan bukan dari listrik.[3]

Kebijakan penanggulangan kemiskinan melalui BLT, secara umum masih terdapat banyak kelemahan. Setidaknya ada empat kelemahan dalam penerapan kebijakan BLT yang telah dilaksanakan oleh pemerintah. :
Pertama, kebijakan BLT dilaksanakan secara seragam (general) tanpa melihat konteks sosial, ekonomi, dan budaya disetiap wilayah (komunitas). 
Kedua, definisi dan pengukuran kemiskinan lebih banyak di pengaruhi pihak luar (externally imposed) dan memakai parameter yang terlalu ekonomis. Implikasinya adalah konsep penanganan kemiskinan mengalami bias sasaran dari hakikat kemiskinan itu sendiri. 
Ketiga, penanganan program pengentasan kemiskinan mengalami birokratisasi yang dalam, sehingga banyak yang gagal akibat belitan prosedur yang terlampau panjang.
Keempat, kebijakan penanganan kemiskinan sering ditumpangi oleh kepentingan politik yang amat kental sehingga tidak mempunyai muatan atau makna dalam penguatan perekonomian masyarakat miskin.
Kebijakan BLT nyatanya belum cocok mengatasi permasalahan ini, sehingga kebijakan itu tidak berhasil karena program yang dirancang dalam pengentasan kemiskinan tidak sesuai dengan kebutuhan yag diperlukan masyarakat miskin[4]

B.     Tanggapan Masyarakat Dusun Tipar, Desa Ligung Lor, Kec. Ligung Kab. Majalengka Tentang BLT (Biaya Langsung Tunai)

Menurut bapak Toni (55) seorang kiai di Dusun Tipar mengatakan bahwa “BLT (Biaya Langsung Tunai) itu hanya menambah masalah dalam masalah! Mengapa demikian?karena dari pengalaman dulu waktu BLT dibagikan contoh realnya aja disini banyak sekali masalah-masalah yang timbul salah satu contohnya pembagianya yang tidak merata ataupun BLT tersebut tidak tepat sasaran (alias salah kirim),bahkan ada oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan BLT tersebut demi kesenangan dia semata.”
Tanggapan yang serupa juga dikatakan pula oleh bapak tohid (46) bahwa, “Pemberian BLT kepada masyarakat miskin, sebenarnya merupakan ide yang cukup baik yang dicanangkan guna membantu masyarakat miskin. Namun, seperti yang kita ketahui bahwa ternyata BLT ini belum sepenuhnya tepat sasaran,selain karena sebagian dari penerima BLT tersebut adalah orang-orang berada di atas garis kemiskinan, ternyata kebanyakan masyarakat penerima BLT ini tidak memanfaatkan bantuan yang diberikan sebagai mana mestinya. melainkan hanya digunakan untuk berfoya-foya seperti membeli perabotan rumah tangga, pakaian dll”.
Ya saya sangat sependapat sekali, betul sekali tanggapan dari bapak tohid, padahal tujuan utama dari pemberian BLT ini adalah untuk menekan angka kemiskinan yang ada di Negara kita seperti yang diungkapkan oleh Andi malarangeng dan menteri sosial, bawasannya apabila masyarakat diberikan dana BLT , masyarakat akan merasa terbantu, akan tetapi dana tersebut juga akan cepat habis, karena tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya seperti membuka usaha rumah tangga sehingga perputaran uang bantuan tersebut bisa dirasakan terus-menerus, tidak untuk dihabiskan dalam sekejap.
Terdapat tanggapan lain pula yang dilontarkan oleh bu atikah (43) bahwa “BLT memang ada manfaatnya, namun hanya sementara dan uang BLT tidak seimbang dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.”
Bapak Saiful (38), mengaku bahwa pemberian BLSM yang akan diberikan nanti tidak akan banyak menolong dirinya. Selain sifatnya yang hanya sementara, saiful juga mengeluh akan mengalami kesulitan jika pengambilan BLT/BLSM nanti harus melewati antrean yang panjang dan rawan kericuhan seperti pengambilan BLT dulu. “Dulu saja saya harus desak-desakan tiap ada pengambilan BLT, susah banget prosesnya,” keluhnya. Pedagang ketoprak keliling itu pun mengaku lebih memilih agar BBM tidak dinaikkan daripada harus mengantri berebut BLT/BLSM
Senada dengan bapak saiful, ibu Nur (41) juga mengaku lebih memilih agar BBM tidak dinaikkan daripada menerima BLSM. Dia mengaku sulit jika harus berdesak-desakan saat pengambilan BLSM. Wanita paruh baya yang sehari-hari bekerja menjaga warung kecil miliknya ini mengaku akan lebih baik jika BLSM diberikan dalam satu periode saja, tetapi dengan jumlah yang sekaligus besar, sehingga bisa digunakan sebagai tambahan modal usaha. “Kalau dikasihnya dikit-dikit begitu sih, cuma habis buat kebutuhan rumah tangga saja,” ujarnya.
Sementara itu, bapak Ali (42) mengaku sudah kapok dengan BLT dan sejenisnya. Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai cleaning service ini mengaku bahwa dirinya tidak hanya disulitkan dengan antrean yang panjang dan berdesak-desakan, tapi juga dengan syarat administrasi yang sulit. “Mengurus syarat-syaratnya saja sudah susah, waktu syarat-syaratnya sudah lengkap, harus desak-desakan. Setelah berjam-jam desak-desakan, uangnya sudah habis dan saya tidak kebagian. Kapok saya!” keluh bapak empat anak tersebut.
Dan pak Hengki (36), juga mengungkapkan hal yang sama. “Syarat untuk dapat BLT itu susah sekali, heran saya,” ujarnya. Meskipun begitu, pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek ini mengaku terpaksa mengikuti proses pembagian BLT karena itulah satu-satunya opsi bantuan dari pemerintah. Baginya, sedikit banyak, BLT dapat membantu meringankan beban dirinya dan keluarga. “Ya kalau tidak diambil kan sayang. Walaupun harus desak-desakan, tidak masalah lah, namanya perjuangan,” ujarnya.
Namun ketika ditanya tentang pendapat Jokowi mengenai pemberian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), Jokowi mengaku tidak setuju. Orang nomor satu di Jakarta itu berpendapat bahwa seharusnya bantuan tersebut diberikan dalam bentuk usaha produktif, seperti usaha kecil dan rumah tangga yang produktif kepada masyarakat yang membutuhkan. Sementara menurutnya, BLSM yang akan digelontorkan oleh pemerintah ini akan memberikan pendidikan yang tidak baik kepada masyarakat. “Dari dulu saya enggak setuju BLT, yang BLSM ini juga, semuanya,” kata Jokowi di Balai Kota Jakarta, Senin 17 Juni 2013.Sedangkan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok juga berpendapat sama. Ahok tidak menyukai adanya BLT dan BLSM untuk masyarakat. Ia lebih setuju jika pemerintah memberikan keadilan sosial yang merata yaitu dengan adanya jaminan kesehatan, pendidikan, transportasi yang murah untuk rakyat, jaminan perumahan, jaminan tempat usaha, dan jaminan sembako tidak naik.[5]
Apabila kita berfikir ulang, BLT itu hanya bisa dipakai jangka pendek trus rakyat indonesia sendiri menurutku itu tidak bisa mengolah dana BLT dan gampang habis. Adapun kebijakan yang harus dilakukan itu bukan memberikan BLT yang jelas-jelas Uang yang langsung, tetapi menurutku pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan lain yang bersifat jangka panjang contoh kecilnya aja uang BLT tersebut digunakan untuk membuat modal bagi rakyat kecil agar bisa membuat lapangan pekerjaan sendiri dan tentunya bersifat jangka panjang meskipun BBM naik, tapi pengangguran bisa diatasi, tentunya tidak menambah masalah dalam masalah. tetapi itu semua tergantung pemerintah yang membuat kebijakan, kalau pemerintahanya cerdas, pasti rakyatnya juga bakalan makmur dan tentunya cerdas juga.
C.    Solusi dan Upaya Pemerintah Dalam Meminimalisir dan Mengentaskan Kemiskinan di Indonesia

Solusi dan upaya pemerintah dalam meminimalisir dan mengentaskan kemiskinan di Indonesia diantaranya :
Pertama, Penggunaan uang elektronik. Penggunaan uang elektronik  ini adalah bagian dari uji coba program anyar penyaluran BLT. “Mulai tahun ini, penyaluran BLT akan memanfaatkan teknologi uang elektronik,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Ronald Waas di Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Rabu (8/10). Program uji coba penyaluran BLT ini dilakukan BI bersama dua bank milik pemerintah, yakni Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia. Ronald mengatakan uji coba ini merupakan bagian dari upaya BI mengedukasi warga mengenai pemanfaatan uang elektronik. “Bank Indonesia akan terus mendukung pemerintah dalam menyalurkan bantuan dengan bentuk lain,” ujarnya. Dalam menyalurkan BLT melalui skema e-money, BRI dan Bank Mandiri memanfaatkan database penerima bantuan yang diberikan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. Penerima bantuan tinggal datang ke agen yang ditunjuk bank untuk mencairkan dana. Berdasarkan survei Bank Indonesia, hanya 48 persen rumah tangga di Indonesia yang mempunyai tabungan atau simpanan di bank. Menurut Ronald, hal ini membuktikan rendahnya akses masyarakat terhadap lembaga jasa keuangan formal. “Sehingga perlu dilakukan peningkatan pengetahuan masyarakat melalui edukasi. salah satunya dengan uang elektronik,” paparnya.
Tahun ini, pemerintah menyalurkan BLT kepada sebesar Rp Rp 25,6 triliun. Dana bantuan ini menjadi kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi yang mulai berlaku 1 April 2012. (tpi/gbi)[6]
Kedua, Pemerintah harus menggalakan kemandirian masyarakat dengan memberikan bantuan berupa pembelajaran, pendidikan skill dan juga menggalakan kembali system koprasi  untuk diterapkan dimasyarakat, bukan hanya dengan memberikan bantuan langsung secara instan
Ketiga, Perlu dilakukannya pengkajian ulang mengenai tidakan yang seharusnya diambil pemerintah mengenai peningkatan kesejahteraan manusia sangat perlu dilakukan. Melihat hal yang diambil saat ini oleh pemerintah mengenai cara peningkatan kesejahteraan masyarakat sangat kurang tepat dikarenakan hal yang sama pernah dilakukan dan hasilnya pun sangat tidak memuaskan. Solusi yang seharunya dikeluarkan pemerintah saat ini harus yang bersifat jangka panjang yang bukan hanya dapat langsung dinikmati hasilnya saat itu saja oleh penduduk  miskin. Pendidikan dan kesehatan bisa dikatakan sebagai kunci untuk membuat solusi baru dimana dapat meningkatkan kualitas pembangunan manusia di Indonesia. Mekanisme yang ditawarkan dalam program BLT pun dapat dikatakan sangat tidak efektif karena banyak BLT yang jatuh pada sasaran yang tepat dan bisa dikatakan pula kebijakan BLT yang tidak memiliki  syarat yang kongkrit tentang bagaimana cara memperolehnya justru malah membuat ketergantungan bagi penduduk miskin dinegara[7]
Keempat, program Padat Karya. Solusi terbaik bagaimana agar rakyat tetap ringan hidupnya dengan menerima uang untuk mengantisipasi kenaikan BBM, disatu sisi rakyat tidak diajarkan Malas yaitu Program Padat karya seperti pada era yang lalu, selain bermanfaat bagi rakyat miskin juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar.





















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Bedasarkan kebijakan yang telah di ambil oleh pemerintah, terbukti bahwa kebijakan BLT ini belum dapat menolong masyarakat miskin di indonesia tetapi malah memanjakan masyarakat yang banyak mengkonsumsi BBM (pada umumnya orang bermobil) dengan harga bersubsidi. Kemiskinan merupakan masalah sosial yang sangat kompleks, karena itu butuh tinjauan menyeluruh dari berbagai aspek dan sudut pandang.
BLT adalah sebuah pembodohan, karena dengan adanya BLT memunculkan beberapa masalah :
1.      Mengajarkan rakyat untuk mengharap pemberian.
2.      Korupsi kelas teri di tingkat daerah atas rekayasa pengucuran BLT
3.      Banyak masyarakat akan berpura-pura miskin agar mendapat BLT
Banyak pihak menilai progam BLT tak efektif untuk mengatasi problem  kemiskinan, kenaikan BBM diyakini akan meningkatkan jumlah pengangguran dan angka kemiskinan.
BLT hanya sekedar memenuhi kebutuhan sesaat, karena dana tidak dipakai untuk kebutuhan produktif sehinga tidak berkelanjut. Dalam hal ini memberikan BLT kepada masyarakat sebeanrnya salah sasaran, dalam artian bahwa dengan adanya program BLT masyarakat cenderung menjadi pemalas dan hanya berharap uang yang sebenarnya tidak begitu banyak dari BLT yang seharusnya masyarakat menjadi yang kreatif dalam mengelola sumber daya alam yang ada. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang sebenarnya mampu namun ikut dalam program BLT          yang seharusnya hanya untuk masyarakat berekonomi kebawah, apakah sekarng masyarakat tidak malu mengakui dirinya miskin ?



B.     Saran
Oleh karena itu menurut penulis alangkah baiknya dari pada memberikan BLT lebih baik membangun lapangan kerja sehingga untuk memperkerjakan masyarakat miskin dan pengangguran karena apabila tidak sebagai orang yang bereokonomi menengah kebawah dizaman sekarang sangat sulit untuk bertahan hidup.

























DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Bantuan_langsung_tunai 19/12/2014; 04.43
http://forester-rimbawan.blogspot.com/2009/04/analisis-program-bantuan-lansung-tunai.html 19/12/2014;10.28
http://ciricara.com/2013/06/18/jokowi-dan-ahok-tidak-setuju-dengan-blt-dan-blsm/ 19/12/2014;11.10
http://www.globalindo.co/2014/10/08/blt-rp-25-t-tahun-ini-disalurkan-dalam-bentuk-e-money 19/12/2014;10.58
http://soal-soalsbmptn.blogspot.com/2013/11/analisis-kebijakan-bantuan-langsung.html 19/12/2014;10.54


[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Bantuan_langsung_tunai 19/12/2014; 04.43
[3] http://forester-rimbawan.blogspot.com/2009/04/analisis-program-bantuan-lansung-tunai.html 19/12/2014;10.28
[5] http://ciricara.com/2013/06/18/jokowi-dan-ahok-tidak-setuju-dengan-blt-dan-blsm/ 19/12/2014;11.10
[6] http://www.globalindo.co/2014/10/08/blt-rp-25-t-tahun-ini-disalurkan-dalam-bentuk-e-money 19/12/2014;10.58
[7] http://soal-soalsbmptn.blogspot.com/2013/11/analisis-kebijakan-bantuan-langsung.html 19/12/2014;10.54